Dipimpin Ompui Eporus HKBP 2000 Orang Ikuti Doa Bersama Merawat Alam Kawasan Danau Toba ” Raport Merah”

Samosir, Tabloidvisual.com – Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pendeta Dr. Victor Tinambunan, memimpin doa bersama bertajuk “Merawat Alam Tano Batak” Selasa, 1 April 2025, di Wisma Sopobolon HKBP Bolon Distrik VII Samosir Sumatera Utara.
Acara ini dihadiri oleh 1500 jemaat HKBP Distrik VII Samosir dan 500 orang elemen masyarakat, Ketua DPRD Samosir. Nasib Simbolon, Wakil Bupati Samosir, Ariston Tua Sidauruk, para kepala Opd serta pegiat lingkungan hidup, Wilmar Simanjorang. tokoh adat, akademisi, pemuda, dan para pareses dari Distrik Sekawasan Danau Toba, sebagai bentuk kepedulian masyarakat adat atas permasalahan pencemaran dan kerusakan lingkungan di kawasan danau toba Tanah Batak. 
Acara doa bersama, Ompui Ephorus HKBP dalam kotbahnya menekankan pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan alam, serta menyerukan pertobatan bagi mereka yang telah merusak lingkungan. Beliau mengingatkan bahwa tanah adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dihormati dan dirawat dengan baik. HKBP, sebagai lembaga keagamaan yang memiliki pengaruh besar di masyarakat Batak, merasa bertanggung jawab dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kesadaran lingkungan kepada jemaatnya. 
Kegiatan doa bersama ini banyak mendapat sorotan di media sosial yang menyoroti bahwa penanganan lingkungan tidak bisa hanya doa saja tetapi harus ada tindakan nyata perbaikan lingkungan, tetapu hal ini perlu kita ingat apa yang kita kerjakan haruslah didoakan demikian juga apa yang didoakan harus dikerjakan.
Pada masa sekarang banyak kejadian yang aneh, ada dilakukan rapat tapi yang dikerjakan tidak sesuai dengan yang dirapatkan. Begitu juga yang diomongkan tidak sesuai dengan apa yang di omongkan
Pdt Dr Viktor Tinambunan. MT.h menyeruhkan, Alam ini diciptakan Tuhan dengan baik untuk itu mari juga kita rawat dan jaga dengan baik, karena sekarang di berbagai lokasi di kawasan Danau Toba telah banyak terjadi bencana banjir bandang dan tanah longsor yang berdampak kerugian dan kesengsaraan manusia.
Becana ini terjadi bukanlah ujian dari Tuhan, melainkan ula dari manusia itu sendiri dengan kerakusan dan ketamakan melakukan penebangan hutan secara membabi buta yang sama sekali tidak memikirkan dampaknya.
Dalam kotbahnya , Pdt DR Viktor Tinambunan, M.STh menekankan bahwa sekarang alam kawasan danau tidak baik – baik saja dan dalam keadaan sakit yang perlu mendapat perhatian, pengobatan dan perbaikan atau “Raport Merah”
Ketua DPRD Samosir, Nasip Simbolon dalam sambutanya menyampaikan bahwa pemerintah daerah tidak bisa bertindak secara tegas karena adanya regulasi – regulasi yang harus dituruti dan diikuti dari pemeritahan yang lebih tinggi.
Wakil Bupati Samosir, Ariston Tua Sidauruk mengingatkan pada masa kecilnya bahwa sekitar tahun 1980 an dianya kerap langsung meminum air danau toba tidak ada masalah, tetapi masa sekarang kita takut minum air danau toba akibat tingginya pencemaran air danau toba.
Wilmar Simanjorang, aktivis lingkungan, mengungkapkan, sangat terharu dan bangga kepada pimpinan tertinggi HKBP yang sangat perduli dan cukup perhatian atas lingkungan kawasan Danau Toba, saya selama ini telah berjuang dan sangat sedih melihat kayu di hutan – hutan dibabat habis tampa perhitungan dampaknya. (Parlin T)



